Kamis, 03 Oktober 2013

Jawa Tengah

Jawa Tengah adalah propinsi dimana budaya jawa banyak berkembang disini karena di jawa tengah dahulu banyak kerajaan berdiri disini itu terlihat dari berbagai peninggalan candi di jawa tengah. Mahakarya yang sungguh mempesona adalah batik di jawa tengah setiap daerah mempunyai corak batik tulis yang berbeda beda mereka mempunyai ciri khas sendiri – sendiri. selain batik ada juga kesenian yang tak kalah luar biasanaya ada wayang kulit yang sudah diakui dunia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO ada juga tembang tembang (lagu lagu ) jawa yang diiringi oleh gamelan (alat musik) yang juga dikenal dengan campursariada juga ketoprak yang merupakan pertunjukan seni peran khas dari jawa.
          Di Jawa Tengah juga masih ada kerajaan yang sampai sekarang masih berdiri tepatnya di Kota Solo yang dikenal dengan Kasunanan Solo. Budaya jawa tengah sungguh banyak mulai dari wayang ,wayang orang, ketoprak,tari dan masih banyak lagi. Kebudayaan yang ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah mayoritas merupakan kebudayaan Jawa, namun terdapat pula kantong-kantong kebudayaan Sunda di wilayah sebelah barat yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat terutama di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap. Adapun budaya
lokal Jawa Tengah antara lain: Kraton Solo (Centraljava Surakarta)BatikKetoprakPagelaran Wayang KulitTari Srikandi / Tari PanahPertujukan Wayang OrangSindenTayubBatik.
Selain itu, Provinsi Jawa Tengah ternyata mempunyai daya tarik kebudayaan yang bagus, salah satu contohnya adalah memiliki tarian tradisional yang beragam. Postingan kali ini kami akan bahas contoh tarian tradisional Jawa Tengah, antara lain :
  1. Tari Merak
Tari Merak merupakan tari paling populer di Tanah Jawa. Versi yang berbeda bisa didapati juga di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur. Seperti namanya Tarian Merak merupakan tarian yang melambangkan gerakan-gerakan Burung Merak. Merupakan tarian solo atau bisa juga dilakukan oleh beberapa orang penari. Penari umumnya memakai selendang yang terikat dipinggang, yang jika dibentangkan akan menyerupai sayap burung. Penari juga memakai mahkota berbentuk kepala menyerupai burung Merak. Gerakan tangan yang gemulai dan iringan gamelan, merupakan salah satu karakteristik tarian ini.
  1. Tari Gambyong
Tari Gambyong tercipta berdasarkan nama seorang penari jalanan (tledhek) yang bernama  Si Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820). Sosok penari ini dikenal sebagai seorang yang cantik jelita dan memiliki tarian yang cukup indah. Tak heran, dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong. Tarian ini merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Ciri khas pertunjukan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian dan pemandu gendhing. Pada zaman Surakarta, instrumen pengiring tarian jalanan dilengkapi dengan bonang dan gong. Gamelan yang dipakai biasanya meliputi gender, penerus gender, kendang, kenong, kempul, dan gong. Semua instrumen itu dibawa ke mana-mana dengan cara dipikul. Umum dikenal di kalangan penabuh instrumen Tari Gambyong, memainkan kendang bukanlah sesuatu yang mudah. Pengendang harus mampu tumbuh dengan keluwesan tarian serta mampu berpadu dengan irama gendhing. Maka tak heran, sering terjadi seorang penari Gambyong tidak bisa dipisahkan dengan pengendang yang selalu mengiringinya. Begitu juga sebaliknya, seorang pengendang yang telah tahu lagak-lagu si penari Gambyong akan mudah melakukan harmonisasi.

Malam 1 Suro

Pada malam 1 suro, malam tahun baru kalender Jawa, di bumi Yogyakarta dan Surakarta terdapat beberapa kemiripan tradisi. Tradisi tersebut adalah Jamasan Pusaka dilanjutkan kirab pusaka, dan juga Tapa Bisu. Tradisi tersebut biasanya dilakukan pada malam hari.

Mungkin sekarang sedikit masyarakat yang mengetahui makna dibalik dari tradisi tersebut kecuali hanya sebagai ritual malam 1 suro. Sebetulnya jika kita telaah lebih dalam, dalam 2 ritual atau kegiatan tersebut terdapat makna yang cukup mendalam terlebih untuk menyambut datangnya tahun baru. Dalam hal ini tahun baru yang di sambut merupakan tahun baru Jawa.

Nah, disini saya mencoba untuk berbicara sedikit mengenai makna-makna dari ritual tersebut sejauh yang saya pahami.

1. Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan pusaka-pusaka yang dimiliki seseorang. Sebetulnya dalam jamasan itu, bukan hanya pusaka yang nampak yang harus dibersihkan, namun juga pusaka yang tidak nampak. Pusaka yang nampak dapat berupa Keris, Tombak, Panah, Pedang, Pistol, atau apapun. Sedangkan pusaka yang tidak nampak itu adalah hati.

kenapa perlu di bersikan?
Pusaka-pusaka tersebut perlu di bersihkan agar selalu siap digunakan setiap saat. Jika jarang di bersihkan, pusaka tersebut akan menjadi berkarat dan ketika di butuhkan unuk sesuatu, ia sudah tidak layak di gunakan.

Begitu pula dengan hati, ia harus kita bersihkan dari segala dendam dan kotoran yang ada, karena hati selalu kita gunakan setiap saat. Apabila jarang kita bersihkan, maka kita juga yang rugi, kepekaan kita terhadap lingkungan tertutup karena kotoran-kotoran duniawi. Oleh karena itu, pada setiap malam tahun baru suro diadakan intropeksi diri dalam bentuk tapa bisu.

2. Tapa Bisu
Merupakan rangkaian dalam ritual yang dimana setiap peserta tidak boleh berbicara hingga acara selesai. Biasanya acara tersebut mengkirab pusaka keraton keliling keraton. Pada prosesi tapa bisu ini, peserta juga diharapkan untuk tidak mengenakan alas kaki. Sebetulnya jika saya pahami lebih dalam, tujuan dari tapa bisu ini merupakan suatu acara berintropeksi diri terhadap berbagai tindakan dan pikiran yang telah tercipta selama satu tahun tersebut.

mengapa tanpa alas kaki?
Tidak memakai alas kaki karena diharapkan saat berintropeksi tersebut kita dapat menyatu dengan alam, dan juga membuang setiap enegi negatif yang ada di dalam diri tersbut ke bumi untuk di netralkan. Dengan kaki telanjang pula kita juga dapat merasakan bahwa sesungguhnya kehidupan itu tidaklah mulus walau berbagai upaya telah di lakukan. Sama seperti jalan yang dilalui tidak ada semulus yang kita kira walau telas di aspal dengan baik.


Oleh karena itulah, melalui jamasan pusaka dan tapa bisu keraton berpengharapan agar dalam memulai tahun yang baru kita juga dapat mulai dari bersih dan dengan semangat yang baru pula untuk menjadi semakin baik dengan memperbaiki apa yang belom baik pada tahun sebelumnya. Serta untuk menyiapkan kita akan berbagai situasi yang datang tanpa rencana baik oleh alam maupun oleh manusia sendiri.

Semoga dengan ini kita semakin sadar bahwa tradisi itu baik untuk kita teruskan. Karena setiap tradisi yang ada, pastilah ada makna kehidupan di dalamnya.

sekaten

Sekaten, atau pasar malam yang biasa dilakukan menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW, selepas dari makna agamis ternyata memiliki banyak arti jika kita dapat mencermati makna di dalamnya secara mendalam. Saat ini sekaten hanya dianggap sebagai wahana hiburan bagi rakyat kecil oleh penguasa serta cara memdapat berkah dari penguasa dengan berebutan dalam acara gunungan.Namun, pada dasarnya kedua makna tersebut benar hanya terkadang kita kurang memahami makna didalam dari kedua makna tersebut.
Berikut akan saya jabarkan pemaknaan menurut diri saya yang lebih dari itu:
  • Sekaten merupakan wahana hiburan bagi rakyat, karena terdapat berbagai hiburan yang murah meriah dan terjangkau bagi semua kalangan. Selain itu ragam hiburan juga bermacam-macam
  • Sekaten dapat menumbuhkan keluarga harmonis. Stand yang beragam dan juga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan akan membuat banyak keluarga yang tadinya jarang keluar dari rumah untuk rekreasi menjadi pergi keluar dan di sekaten mereka dapat saling berinteraksi dalam keluarga akan apa yang mereka ingini masing-masing, dengan demikian dalam keluarga itu jadi tahu seperti apa kemauan anggota keluarganya. hal ini dapat membuat keluarga jadi tambah harmonis.
  • Sekaten sebagai ajang sosialisasi antar rakyat, baik yang tua maupun muda. Stand yang beragam dan banyak dikunjungi akhirnya dapat membuat orang yang tadinya tidak saling kenal menjadi mengenal satu sama lain. Dengan demikian, orang tersebut akan memperoleh banyak teman dan berbagai sifat serta daerah asal, karena kita tahu sekaten dapat mendatang kan orang dari luar kota sekalipun.
  • Sekaten merupakan tanda syukur. Dalam sekaten diadakan suatu pembagian gunungan dari penguasa ke rakyat. Ini selain sebagai simbol bahwa penguasa juga memperhatikan rakyat, juga sebagai simbol bahwa penguasa bersyukur atas rakyatnya yang selalu mendukung pemerintahannya baik dalam bentuk pujian ataupun kritikan.
Namun, menurut saya keseluruhan, inti sekaten itu terdapat pada puncak acaranya sendiri yaitu saat gunungan di keluarkan, gamelan dibunyikan dan saat Maulid Nabi Muhammad SAW (kelahiran Nabi Muhammad).
Sekaten sebagai tanda kemakmuran. Hal ini dapat di tinjau dari komponen gunungan yang dibuat serta dari asal kata sekaten itu sendiri. Sekaten itu sendiri sebenranya dari kata Sekati, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kati itu berarti ukuran bobot yang berukuran 6,25 ons dan biasa digunakan untuk mengukur beras ketika akan di masak. Dahulu orang jika membeli beras memakai ukuran ini dengan penakar adalah setengah tempurung kelapa. Jika kita tinjau lebih dalam, Sekati berarti satu kati atau 6,25 ons, dan jika menanak nasi sebanyak 6,25 ons beras itu berarti dapat mencukupi kebutuhan hidup satu keluarga dalam satu hari. Dengan demikian keluarga tersebut tidak kekurangan. Selain dari kata sekati, komponen dari gunungan juga bermacam-macam dan biasanya adalah bahan kebutuhan sehari-hari. Bahan kebutuhan sehari-hari atau sembako itu juga merupakan salah satu penopang hidup dan kemakmuran dalam sebuah keluarga. Selain sembako juga ada papan atau kayu serta kain yang turut di ambil, kedua bahan ini mewakili dari sandang dan papan yang dibutuhkan oleh tiap insan.

Pada saat gunungan dikeluarkan juga dibunyikan gamelan sekaten atau gamelan sekati. Gamelan merupakan sebuah seni musik dan mewakili seni yang lain. Ini berarti selain bahan pangan, sandang dan papan, juga manusia dianggap akan makmur bila dapat menikmati atau memiliki suatu rasa seni, salah satunya seni musik. Tidak hanya itu, Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pun adalah saat dimana gunungan di keluarkan, ini berarti bahwa segalanya itu tidak akan mengalami kemakmuran jika kita tidak mengenal suatu agama dan Tuhan yang memberikan segalanya untuk kita.

Sehingga dengan demikian, pada hemat saya para penguasa dan jaman dahulu memandang bahwa suatu kemakmuran itu tercipta apabila unsur Pangan, Sandang, Papan, Seni dan Rohani itu tercukupi dan dalam keadaan yang seimbang. Keseimbangan tersebut dapat diambil dari kata sekati karena dengan beras sekati satu keluarga dapat melakukan berbagai pekerjaannya pada satu hari itu.

tentang budaya jawa

Tentang Budaya Jawa

Refleksi Usai Menonton Mangkunegaran Performing Art 2011
Saya bukan pemerhati soal budaya dan tidak mempunyai latar belakang ilmu budaya. Namun setelah semalam melihat pertunjukan seni tari tradisional di acara Mangkunegaran Performing Art 20-21 Mei 2011, baru saya menyadari betapa tinggi peradaban orang Jawa, khususnya Surakarta dan Yogyakarta.
Selama ini saya bukan pula seorang penikmat seni tradisional Jawa khususnya musik gamelan dan tari. Saya lebih sebagai penggemar keindahan musik dan lagu  Barat yang  ekspresif dan enerjik. Gamelan dan tari Jawa terlalu lamban, mellow, kurang rancak, pokoknya membikin ngantuk.  Keindahan musik, lagu dan tari Barat bisa dinikmati begitu indra mata dan telinga menangkapnya. Namun, untuk menemukan keindahan atau untuk bisa “connect” dengan seni musik dan tari Jawa sepertinya butuh waktu, batin, dan enerji pikiran yang lebih. Seni tari dan musik Barat adalah gambaran gelora jiwa yang meledak-ledak, bebas merdeka , ekspresif tanpa basa-basi, Gamelan dan tari Jawa (khususnya klasik) adalah gambaran sebaliknya: terkendali, lembut , santun penuh tata krama. Keindahan seni gamelan dan musik Jawa tidak cukup dipahami hanya lewat indra fisik tapi juga batin manusia . Pemahaman saya ini adalah murni kesimpulan pribadi seorang amatir yang diambil dari  (hanya) beberapa kali menonton pertunjukan tari tradisional Jawa. Sekali pun amatir, penilaian itu datang dari orang Jawa.
Orang Jawa” , identitas etnis yang selama ini tidak saya sadari , suatu yang saya anggap “given” : sudah terberi. Apa dan bagaimana orang Jawa? Nilai-nilai apa yang menunjukkan identitas sebagai Jawa? Apa itu budaya Jawa? Pertanyaan-pertanyaan ini selama ini tidak pernah terbersit dalam pikiran saya. Namun dengan menonton seni tradisional Jawa di Kraton Kasunanan dan yang baru ini di acara Mangkunegaran Performing Art 2011 menggelitik otak saya untuk berpikir dan berusaha mencari jawabannya. Penting tidak sih mempertahankan  identitas budaya Jawa?
Tentang apa yang dimaksud budaya, Wikipedia menjelaskan demikian :
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.  
Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama: kebudayaan material dan nonmaterial. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional (wikipedia).
Adapun  budaya Jawa  mempunyai beberapa ciri yang salah satunya adalah menjunjung tinggi nilai harmoni :
Kebudayaan Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Semua unsur kehidupan harus harmonis, saling berdampingan, intinya semua harus sesuai. Segala sesuatu yang menimbulkan ketidakcocokan harus dihindari, kalau ada hal yang dapat mengganggu keharmonisan harus cepat dibicarakan untuk dibetulkan agar dapat kembali harmonis dan cocok lagi.
Biasanya yang menganggu keharmonisan adalah  perilaku manusia, baik  itu perilaku manusia dengan manusia atau perilaku manusia dengan alam. Kalau menyangkut perilaku manusia dengan alam yang membetulkan ketidakharmonisan adalah pemimpin atau menjadi tanggungjawab pimpinan masyarakat. Yang sulit apabila keseimbangan itu diganggu oleh perilaku manusia dengan manusia sehingga menimbulkan konflik. Ketidakcocokan atau rasa tidak suka adalah hal yang umum, namun untuk menghindari konflik, umumnya rasa tidak cocok itu dipendam saja (Wikipedia bahasa Jawa). 

Upaya menjaga harmonisasi ini rupanya yang  membuat kebanyakan orang Jawa tidak suka konflik secara terbuka. Ciri ini -kalau memakai bahasa gaul- “gue banget”. Sepertinya tidak sampai hati (ora tekan) kalau ada rasa tidak puas, tidak cocok terus diteriakkan lugas ke orangnya apalagi kalau di depan orang banyak atau forum. Untuk menyelesaikan konflik rasanya lebih sreg kalau dibicarakan secara pribadi dulu ketimbang langsung dibuka di forum dan diketahui orang banyak. Namun cara ini ada kelemahannya, karena tidak mau berbicara terbuka, orang Jawa menjadi lebih suka kasak kusuk atau menggerudel di belakang . Akibatnya, bukan mencoba mengembalikan keseimbangan atau harmonisasi malah justru memelihara ketidakharmonisan. Falsafah menjaga harmoni ini juga terlihat dari gerak tari tradisional Jawa terutama yang merupakan karya para raja Solo dan Yogya : halus, hati-hati, luwes, penuh perhitungan, ekspresi gerak dan wajah penarinya begitu terjaga , anggun dan agung, hampir tidak ada ekspresi spontan dan meledak-ledak. Bahkan konon untuk menarikan tarian ini penarinya harus menjalani ritual atau laku batin tertentu seperti puasa atau pantang.

Ciri atau identitas lainnya dari budaya Jawa adalah keyakinan Kejawen. Kejawen (Wikipedia) adalah kepercayaan yang hidup di suku Jawa. Kejawen pada dasarnya bersumber dari kepercayaan Animisme yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Karena itulah suku Jawa umumnya dianggap sebagai suku yang mempunyai kemampuan menjalani sinkretisme kepercayaan, semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa.
Kepercayaan Kejawen yang merupakan sinkretisme antara animisme dengan ajaran Hindu dan Budha menggambarkan bahwa orang Jawa pada dasarnya bersifat pluralis, terbuka, mudah menerima pengaruh budaya luar dan pandai menyesuaikannya dengan budaya sendiri dan bahkan mengolahnya menjadi bentuk budaya baru yang tidak kalah bahkan lebih bagus dari budaya aslinya. Contohnya seni tari dan wayang yang berkembang di Jawa  dan Bali bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana , namun jauh lebih indah dari Negara asalnya India.
Berbicara tentang budaya  Jawa, khususnya Surakarta dan Yogyakarta, tidak bisa dilepaskan dari Kraton sebagai pusat budaya Jawa. Karya seni Jawa baik sastra, gamelan, tari dan wayang adalah bentuk ekspresi budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dan seniman atau pujangga Kraton Solo dan Yogya. Pada mulanya karya seni itu merupakan klangenan (hiburan) yang terbatas dinikmati kalangan kraton. Dalam perkembangannya, karya seni ini kemudian dipentaskan sebagai produksi seni pertunjukan bagi rakyat biasa. 
Di Surakarta, Sunan Paku Buwono X membuka Taman Hiburan Sri Wedari dengan pertunjukan wayang orang yang main setiap malam. Masyarakat Surakarta dan sekitarnya (yang masih kuat berorientasi ke budaya istana), menyambut dengan gembira. Melalui pertunjukan wayang orang, mereka bisa mengidentifikasikan dirinya dengan kaum priyayi dan bisa mengagumi kebesaran masa silam…..
Di Yogyakarta, dengan restu Sultan, perkumpulan tari Krida Beksa Wirama didirikan tahun 1918 dan sejak itu tarian keraton boleh diajarkan kepada rakyat banyak. Upaya meneguhkan legitimasi kekuasaan raja tetap dilakukan dengan patronase pertunjukan gamelan, tari, dan wayang. Selama memerintah (1921-39), Sultan Hamengku Buwono VIII mementaskan 11 lakon wayang orang. Beberapa di antaranya didukung oleh 300-400 seniman dan mengambil waktu 3-4 hari, dari jam 06:00 sampai 23:00 (http://www.heritageofjava.com/)
Perubahan seni tradisi Kraton Jawa dari sebagai bentuk ekspresi budaya dan ritual kraton menjadi seni pertunjukan popular menjadikan seni tari dan wayang menyatu sebagai milik orang Jawa. Seni tradisi dikembangkan dan diwariskan turun temurun sebagai bagian dari identitas budaya Jawa.
Seni tradisional Jawa yang telah menjadi identitas yang dilakoni dan dihidupi oleh orang Jawa selama bertahun-tahun itu saat ini mengalami erosi akibat kuatnya pengaruh budaya Barat yang disebarkan melalui  tehnologi media seperti film dan televisi.  Anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai tari, lagu dan musik Barat ketimbang seni tradisional. Mereka lebih memilih mempelajari seni musik Barat daripada belajar karya seni tradisi. Karya seni Barat terkesan  modern dan lebih bergengsi, juga lebih ekspresif, spontan dan energik sehingga dirasa lebih pas dengan gejolak jiwa muda .
Kekhawatiran bahaya ancaman budaya asing terhadap keberlanjutan tradisi budaya local nampaknya tidak hanya berlaku untuk budaya Jawa tapi juga tradisi banyak suku di Indonesia. Kompas Minggu, 22 Mei 2011 dalam rubrik persona kebetulan juga mengulas masalah ini. Dengan judul “Negeri dalam Darurat Tradisi” rubrik ini memuat wawancara dengan Prof. Dr. Nurhayati Rahman,M.Hum yang risau akan punahnya kebudayaan local dan seni tradisi suku Bugis : “Negeri ini berada dalam darurat tradisi. Penelitian saya tahun 2003 memperlihatkan para maestro seni tradisi usianya rata-rata 60-70an tahun. Kalau tak ada transformasi pengetahuan kepada generasi muda, praktis 10 tahun mendatang seni tradisi di Sulawesi Selatan akan habis…Kalau hal ini terjadi di semua kebudayaan di Indonesia, kita akan menjadi bangsa yang kehilangan sukmanya. Putus sudah yang menghubungkan kita sebagai bangsa ”.
Budaya asing yang mengancam eksistensi budaya local bukan hanya datang dari hegemoni budaya Barat tapi juga budaya tandingannya. Kuatnya penetrasi budaya global telah memicu perlawanan berupa menguatnya  gerakan anti Barat berikut nilai dan ideologi yang terkandung di dalamnya. Gerakan ini cenderung ingin mengembalikan tatanan social, budaya dan politik yang menurut mereka merupakan praktek yang paling ideal dan menjanjikan kesejahteraan.  Gerakan anti budaya Barat  ini juga memperoleh dukungan kuat di Indonesia. Sama halnya dengan budaya Barat, gerakan ini mengenalkan identitas budaya yang berbeda dan bahkan dalam hal tertentu tidak komplemen dengan budaya Jawa dan budaya local banyak suku di Indonesia umumnya.
Baik budaya Barat maupun budaya tandingannya ternyata berpotensi membuat orang Jawa melupakan dan bahkan menilai rendah budaya nenek moyangnya sendiri. Setelah menonton begitu indahnya harmonisasi antara musik gamelan, kostum dan gerak tari tradisional Jawa tidak terbayang sedihnya kalau budaya yang adiluhung itu dilupakan dan dimusnahkan sebagai identitas orang Jawa. Budaya apa yang akan kita turunkan ke generasi muda suku Jawa? Apakah identitas budaya baru itu sedemikian berharganya sampai kita tega memusnahkan kekayaan dan keluhuran budaya ‘indigenous” kita sendiri?
Tentang hal ini, Prof. Nurhayati Rahman menyatakan ancaman kepunahan seni tradisi di Indonesia bukan hanya karena ancaman budaya asing, namun karena “ Kita tak punya kecintaan pada diri kita, bangsa kita, Negara kita. Kita bangga kalau bisa impor segala sesuatu, termasuk ilmu pengetahuan. Makanya tak ada penemuan baru, karena terlalu “menurut mereka”, bukan “menurut kita”. Padahal sumber pengetahuan kita berlimpah”.
Khusus untuk seni tradisional Jawa, saya optimis masih banyak orang Jawa yang “sangat Jawa”. Budaya Jawa dengan pusatnya Kraton Surakarta dan Yogyakarta, ibarat pohon mempunyai akar kuat dalam hati dan jiwa manusia Jawa. Nilai-nilai ajaran Jawa berikut  ritual tradisi tetap terus akan dilakoni orang Jawa  selama Kraton tetap menjadi pusarnya. Banyaknya sanggar seni dan lembaga pendidikan seni di Solo dan Yogyakarta akan terus mencetak seniman-seniman tradisi yang terpanggil untuk merawat dan  mencintai warisan leluhurnya. Buktinya dalam pertunjukan seni Mangkunegaran Performing Art 2011 ditampilkan lakon wayang orang yang sebagian besar pelakunya anak-anak kecil usia TK , SD dan SMP. Dan mereka menunjukkan bakat seni yang sungguh luar biasa. Terima kasih untuk para seniman dan para guru seni yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengabdi bagi seni tradisi dan  yang telah berhasil mencetak calon-calon penerus budaya Jawa.
Coretanku 22 Mei 2011
                            Keserasian dan keindahan kostum dan  gerak tari tradisional Jawa
                                           Foto : doctorcomputer. blog. uns.ac.id
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Foto: Mursito
Inilah para penerus eksistensi budaya Jawa
Foto : Jojo (koleksi pribadi)

masakan jawa

Masakan

Nasi Gudeg.jpg
Nasi rawon empal kisi, Banyuwangi, Jawa Timur
Budaya petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal sebagai produsen beras terbesar di Indonesia. Jawa Timur dan Jawa Tengah penyumbang beras terbesar di Indonesia yaitu 31,27%, Jawa Tengah 23,79%, Jawa Barat 15,19%, Sulawesi Selatan 10,10% dan Nusa Tenggara Barat 4,6%.[16] Selain sebagai produsen beras terbesar Jateng dan Jatim juga menghasilkan aneka ragam masakan. Masakan Jawa adalah masakan khas yang berasal dari pulau Jawa, kecuali Jawa Barat yang mempunyai kekhasan khusus sebagai Masakan Sunda. Masakan Jawa tersedia di Warung Tegal. Masakan Jawa tempe menjadi masakan internasional dan menjadi satu satunya masakan Indonesia yang tidak terpengaruh oleh masakan Tionghoa, masakan India, atau masakan Arab.[rujukan?]

seputar jawa

Arsitektur

Stupa Borobudur
Arsitektur Jawa adalah bentuk bangunan khas yang dirancang oleh orang Jawa untuk berbagai fungsi. Diantaranya adalah rumah Jawa atau Joglo yang sangat unik bentuknya. Bentuk bangunan Jawa sangat dipengaruhi oleh agama Hindu, Buddha dan Islam. Arsitektur Jawa juga mengadaptasi bentuk bangunan Tionghoa, Belanda dan Arab. Sejak dahulu orang Jawa sudah pandai dalam membuat arsitektur hal ini terbukti dengan ditemukannya sejumlah candi monumental di Jawa seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bahkan Jateng-DIY dan Jatim tercatat sebagai wilayah di Indonesia yang terbanyak memiliki candi dengan lebih dari 50 buah candi. Di Jawa juga banyak terdapat masjid yang merupakan akulturasi budaya Hindu dan Islam seperti Masjid Agung Demak.

Terakota Majapahit

Terakota Majapahit adalah kerajinan tanah liat era Majapahit. Seni Terakota adalah satu karakter budaya pada masa Majapahit yang cukup terkenal dan banyak ditemukan. Hasil seni ini berupa arca, bak air, jambangan, vas bunga, hiasan atap rumah, genteng, dinding sumur (jobong), kendi, atau celengan. Pada era Majapahit pengetahuan tentang pembuatan barang-barang dari tanah liat bakar dengan prinsip yaitu membuat bentuk atau model dari tanah liat, mengeringkan di bawah sinar matahari, dan membakarnya dalam api.[10]

Kapal Jung

Kapal Jung
Hasil budaya teknologi Jawa lainnya adalah Kapal Jung yaitu sebuah kapal layar tradisional yang digunakan oleh orang Jawa pada jaman kerajaan dahulu. Dalam relief candi Borobudur terdapat penggambaran kapal Jung. Lambung kapal Jung dibentuk dengan menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jung yang disebut sebagai kapal Borobudur ini telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta[11] yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Pendidikan

Pendidikan menempati arti sangat penting bagi orang Jawa. Bahkan bapak pendidikan Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara adalah orang Jawa dan beliau adalah pelopor pendidikan Indonesia. School tot Opleiding van Indische Artsen atau STOVIA sekolah kedokteran pertama di Indonesia adalah pendidikan modern pertama bagi orang Indonesia termasuk orang Jawa. Di masa modern pendidikan tetap menempati peran penting bagi orang Jawa. Bahkan dalam Peringkat universitas di Indonesia menurut Webometrics tercatat 30 perguruan tinggi dari Jateng-DIY dan Jatim termasuk 50 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Bahkan dalam Olimpiade Sains Nasional yang merupakan kompetisi bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia tercatat dimenangkan oleh hanya 2 provinsi yaitu DKI Jakarta 4 kali pada tahun 2004, 2005, 2009, 2010 dan Jawa Tengah 8 kali pada tahun 2002, 2003, 2006, 2007, 2008, 2011, 2012, 2013. [12] [13] [14]

Kalender

Simbol siklus pasaran dalam kalender jawa
Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan budaya Eropa. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II yaitu seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (Blambangan).

Kesenian

Bambangan Cakil
Barongan (Dadak merak)

Seni Tradisional Jawa adalah karya seni yang diciptakan dan berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Beberapa contoh dari seni tradisional jawa antara lain tari gambyong. Kesenian tradisional dari Jawa ada berbagai macam, tetapi secara umum dalam satu akar budaya kesenian Jawa ada 3 kelompok besar yaitu Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog).

Tari

Musik

Langgam Jawa merupakan bentuk adaptasi musik keroncong ke dalam musik tradisional Jawa, khususnya gamelan. Tokoh-tokoh musik ini di antaranya Andjar Any, Gesang, Ki Narto Sabdo dan Waljinah.

Silat

Lambang Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri
Ada perguruan silat bernama Kali Majapahit yang berasal dari Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali Majapahit ini mengklaim berakar dari Kerajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina, Singapura, Malaysia dan Thailand [15]. Silat Jawa lainnya adalah Perisai Diri yang didirikan oleh almarhum RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, putra bangsawan Keraton Paku Alam. Teknik silat Perisai Diri mengandung unsur 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia ditambah dengan aliran Shaolin (Siauw Liem) dari negeri Tiongkok. Silat Merpati Putih dan silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah juga diciptakan oleh orang Jawa. Ketiga seni silat ini sudah tersebar ke Amerika dan Eropa.

go internasional



8333_1131584057738_1471351101_30334231_104465_n
Peragaan Busana di Luar Negeri dengan Busana Batik

Dengan bergabungnya seni lukis dengan seni dekorasi pakaian,tumbuhlah seni batik yang kita kenal dewasa ini.Kalau dahulu seni lukis berada di tangan pria,maka dengan pertemuan itu menjadi seni yang masuk dalam rumah tangga dan berpindah ke tangan wanita.Dalam perkembangannya,setelah masuknya kain putih(mori) yang didatangkan dari Eropa maka seni batik mengalami penghalusan yang mencapai puncaknya.Kehalusan bahan dasar memungkinkan si pembatik membuat pola-pola dan gambar-gambar yang makin indah,canting begerak dengan lancar tanpa menemui halangan tidak seperti pada kain tenunan yang kasar.
8333_1131584137740_1471351101_30334233_2202538_n
Batik telah mendapatkan pengakuan dari Dunia Internasional
Dalam abad ke-19 muncul persaingan antara batik tulis dengan cap,suatu cara meletakkan lilin di atas kain tidak dengan alat canting melainkan dengan alat cap yang terbuat dari tembaga.Sebenarnya teknik pemakaian dengan alat cap tidak dapat digolongkan ke dalam seni batik.Oleh karena pertimbangan ekonomis dan hasrat mencari uang dengan cepat yang mendesak seni batik halus,sehingga pembuatan batik tulis hanya terbatas pada mereka yang mampu atau yang membatik sebagai pengisi waktu.
8333_1131584177741_1471351101_30334234_7060307_n
Batik telah diakui oleh UNESCO sebagai Kekayaan Budaya Adiluhung dari Indonesia
Suatu teknik modern diperkenalkan dalam pemakaian pewarna kimia yang didatangkan dari luar negeri yang ternyata lebih mudah dalam pemakaiannya juga lebih variatif warnanya,yang mendesak pemakaian zat pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.Hal ini terjadi sampai dengan pecahnya perang Dunia II.
8333_1131591257918_1471351101_30334246_2171285_n
Tidak Hanya Batik,Kain Tenun buatan Indonesia juga dipakai dalam peragaan busana di Luar Negeri.
8333_1131591417922_1471351101_30334250_4503978_n
Kain Tenun dalam Peragaan Busana
Pada jaman pendudukan Jepang,dikarenakan sukarnya mendapatkan bahan dasar kain putih(mori),maka untuk mencegah pengangguran besar-besaran,perusahaan-perusahaan batik mengalihkan ke dalam pola-pola yang sulit,penuh dengan garis-garis,titik-titik,dan pemberian warna yang berlebihan.Pengaruh asing dengan pola-pola khas mereka tetap dilanjutkan,terutama oleh para pembatik di pesisir pantai utara Pulau Jawa,terutama di daerah Pekalongan,sebagai pusat pembatikan.

Hasil-hasil batik di daerah ini terkenal sebagai batik ‘Jawa Baru‘ atau ‘Jawa Hookokai‘.Nama yang dipakai sesuai dengan situasi waktu di jaman pendudukan Jepang,sehingga tidaklah aneh didapatkan pola-pola baru seperti bunga khas Jepang,yaitu bunga seruni.
Disayangkan perkembangan seni batik menjadi berhenti sesaat pada saat pecahnya perang kemerdekaan dari tahun 1945-1950.Namun sesudah tahun 1950,industri batik tumbuh kembali,ada yang berdiri sendiri,ada juga yang bergabung dalam koperasi-koperasi batik.
8333_1131596218042_1471351101_30334261_5436158_n
Batik dewasa ini telah menjadi bisnis atau industri.Kebutuhan akan batik sudah jauh meningkat,dimana kalau dahulu batik digunakan dalam beberapa macam pakaian adat seperti berupa kain panjang,sarung,kemben,selendang dan dodot,namun sekarang ini batik kegunaannya menjadi bermacam-macam mulai dari alas tempat tidur sampai dengan alas meja dan kemeja.Disamping itu seni batik mengalami semacam ‘demokratisasi‘ mengenai pemakaian polanya,setiap orang bebas memakai pola-pola yang disukainya tanpa larangan yang ketat,pengecualian di dalam lingkungan tembok kraton/istana di Jawa Tengah.Kebutuhan akan permintaan batik yang sangat besar ini mendorong industri-industri batik berusaha memenuhi permintaan masyarakat dengan menghasilkan batik secara cepat dan murah.
8333_1131596258043_1471351101_30334262_4007572_n
Akibat dari berkembangnya perusahaan batik  sekarang ini,membuat berkurangnya pembuatan batik tulis halus.Untuk memenuhi kebutuhan pasar,terkadang mengabaikan mutu/kualitas motif dan pola batik.Pola-pola yang dibuat lebih banyak menuruti selera pasar,seperti pola baru dengan warna-warna yang menyolok.Sehingga batik tulis halus sekarang ini hanya dibuat oleh mereka yang mampu dan mempunyai banyak waktu luang.Pembatik-pembatik menjadi kehilangan daya ciptanya,karena selalu harus memenuhi keinginan para pengusaha batik,sesuatu hal yang sangat disayangkan.Hal yang sangat ditakutkan kalau kekayaan pola dan motif seni batik tradisional mengalami kemunduran bahkan menjadi punah.Semoga tidak menjadi kenyataan,maka perlu adanya dukungan dan partisipasi dari masyarakat luas khususnya pemerhati budaya batik untuk selalu memelihara kekayaan seni batik sebagai budaya nasional bangsa Indonesia.